Pesan Untuk Diri sendiri yang sedang Berda`wah

“Jika Seorang manusia sudah menyampaikan pendapatnya maka itu sudah mencukupi, dalam hal ini yakni sudah ditunaikan apa yang seharusnya disampaikan dengan cara yang baik dan santun serta beretika. Namun Apabila melahirkan suatu permusuhan, perdebatan, dan menyerang serta menyesat-sesatkan, maka inipun tidaklah termasuk pada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hal memberikan penjelasan, tentu bukanlah cara dakwah dengan atas nama Allah dan kepada sunnah Rasulullah.
Latest Post
Loading...
Selamat Datang di Blog Dunia Cahaya hati yang menghadirkan kajian-kajian ilmu hikmah yang berlandaskan Al Qur`an dan Al Hadits dan dapatkan pula buku Al Fuaad Fi Nuurin Edisi Terbaru Semoga Blog disini dapat memberikan manfaat bagi para pengunjung
Saturday, 2 April 2016
Duniacahayahati.blogspot.com Situs tentang Ilmu Ma`rifatullah (Tauhid) Didalamnya banyak mengandung Ilmu Hikmah yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang diberikan Ilmu ini.

BENARKAH AKU BERIMAN ATAU ATHEIS (TAK BERTUHAN)

Kajian Tauhid dan Nahwu Shorof Mengkaji Alqur`an dan hadits Pada Kitab Al Fuaad Fi Nuurin dan Al Hikam.
Disyarahkan Oleh Elfiansyah Elham Spd S,com M,com

Dalam memahami suatu Al Qur`an dan Hadits tidaklah hanya tektual dan tidaklah hanya memahaminya hanya pada terjemahan karena apapun itu wajib ada visualisasinya (Kehidupan nyata sehari-hari).

Teknik atau Metode memahami Al Qur`an dan hadits secara visualisasi berdasarkan Nahwu Shorof dan Tauhid.

Perhatikan hadits Dibawah ini :

Dari Abu Hurairah; Rasulullah bersabda:
أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا صحيح مسلم
"Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah mesjid, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar." [Sahih Muslim]

لَا تَكُونَنَّ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ السُّوقَ وَلَا آخِرَ مَنْ يَخْرُجُ مِنْهَا فَإِنَّهَا مَعْرَكَةُ الشَّيْطَانِ وَبِهَا يَنْصِبُ رَايَتَهُ
“Jika engkau bisa, janganlah menjadi orang yang pertama masuk pasar dan terakhir keluar darinya. Karena pasar merupakan medan pertempuran syetan dan di sanalah ia menancapkan benderanya.” (Shahih, HR. Muslim (2451))

KENAPA HARUS PASAR tempat yang dibenci dan Syetan menancapkan benderanya ?...

Jawabannya : DISINILAH KEBANYAKAN MANUSIA SIAPAPUN DIA DAN APAPUN DIA DAN APAPUN AGAMANYA MAKA AKAN MENJADI ATHEIS....

Kenapa menjadi Atheis ? karena mereka meyakini bahwa yang memberikan rezeki adalah makhluk, Indikator, Teknik serta usaha mereka dalam kehidupan nyata sehari-hari KARENA YANG TERPANDANG ATAU PENYAKSIANNYA ADALAH : MAKHLUK.

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(Al Ankabut ( 29 ) : 60)

“Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".(Saba ( 34 ) : 36)
Banyak Ayat Al Qur`an Dan Kitab Suci lainnya dalam hal ini yang berulang-ulang dengan makna yang penuh penekanan.

Jika penyaksian sehari-hari dalam hal ini adalah Makhluk : Maka Makhluk itu diliputi IRI, DENGKI HASAD, HASUD, DUSTA DAN KEBENCIAN, SAKIT HATI, EMOSIONAL SERTA CEMBURU BUTA..

Tidak peduli dipasar manapun engkau bertransaksi baik secara offline maupun online.

Untungkah dalam berdagang atau Rugikah dalam berdagang, lariskah atau sepikah dalam berdagang maka penyaksiannya hanya kepada Allah semata bukan karena A,B,C dan D...selain dari Allah Ta`ala ( ini akan selalu mencari kambing Hitam serta selau berdengkian kepada yang laris jualannya) dst.
Agar kita terhindari dari pembatalan syahadat dan menimialisir penyakit hati seperti : Iri, Dengki, Hasad, Hasud, Dusta dan Kebencian serta Cemburu Buta maka tancapkan di dalam hati : “Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya).

JIKA PAHAM Maka kedudukan diri adalah : "FANABILLAH" (La Quwwata Illa Billah)
Kajian Tauhid & Nahwu Shorof setiap Malam Selasa dan Malam Jum`at di Sindangsari Kecamatan Sambutan
Tuesday, 1 December 2015
Duniacahayahati.blogspot.com Situs tentang Ilmu Ma`rifatullah (Tauhid) Didalamnya banyak mengandung Ilmu Hikmah yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang diberikan Ilmu ini.

Sesatkah Doa Abu Nuwas &Amal jadi alat sambung atau Pemisah
Oleh : Elfiansyah Elham Spd


Mengingkari Taqdir adalah Suatu Kebodohan

Ibnu Athoillah Assakandari mengatakan dalam Kitabnya Al Hikam, Tanda-Tanda seseorang bersandar kepada Amal.


مِنْ عَلاَمَاتِ الْاِعْتِمَادِعَلَى الْعَمَلِ نُقْصاَنُ الرَّجَاءِعِنْدَوُجُوْدِالزَّلَلِ
“Tanda-tanda bahwa seseorang itu bersandar / bertuhan kepada amal usahanya yaitu berkurangnya pengharapan terhadap karunia Allah Ta`ala ketika terjadi padanya suatu kesalahan atau dosa”.

Maka Penulis dalam hal ini melakukan ta`liq kepada perkataan Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandary yaitu : Tanda –tanda bahwa seseorang itu bersandar / berTuhan kepada Amal usahanya, bila seseorang itu beramal dia merasa dekat kepada Allah Ta`ala namun di saat tidak beramal atau di saat tidak sedang beramal maka Allah Ta`ala jauh dan lenyap, sehingga Allah Ta`ala ada jika sedang beramal namun apabila tidak sedang beramal Allah Ta`ala lenyap, sehingga Amal dijadikan jarak kepada Allah Ta`ala, dan waktu pun dijadikan sandaran untuk beribadah kepada Allah Ta`ala, jika bukan waktunya maka Allah Ta`ala pun lenyap dan tenggelam, Allah Ta`ala ada ditempat-tempat tertentu dan ada pada waktu-waktu tertentu saja serta Allah Ta`ala ada di keadaan situasi tertentu, bukankah ini perbuatan yang tanpa disadari seseorang itu telah bertuhankan dan bersandar kepada amal itu, bisa di renungkan jika seseorang yang beramal tadi melakukan perbuatan dosa tentu tambah lenyap sama sekali Allah Ta`ala pada dirinya.

Sesatkah Doa Abu Nuwas yang sering didengar oleh diri ini jawabannya dapat di simak Kajian Kemurnian Tauhid pada Majelis Nuurul Fuaad dibawah ini :





PEMESANAN BUKU DISINI




Tuesday, 17 November 2015
Duniacahayahati.blogspot.com Situs tentang Ilmu Ma`rifatullah (Tauhid) Didalamnya banyak mengandung Ilmu Hikmah yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang diberikan Ilmu ini.

Praktek Syeikh Sufi yang jauh dari Al Qur`an dan As-Sunnah
Oleh : Elfiansyah ELham Spd


Kaum Salafiyah di daerah-daerah Arab Suriah pada tahun 1901 seorang teman Rida di Damaskus Abdul Al Hamid Az Zahrawi 1871-1916 Mempublikasikan sebuah artikel panjang yang berisi kritik kerasnya terhadap kondisi hukum Islam yang ada pada saat itu dan terhadap sufisme tanpa mengungkapkan alasan-alasannya ia tidak hanya mengkritik dengan keras praktek-praktek ilegal Sufi yang baru-baru ini muncul dari pada Syeikh penipu yang curang dan malas dan kebanyakan untuk menipu uang para pengikutnya dan ingin diharap pengakuan dari para murid-muridnya atas ilmunya dan kesaktian serta kesholehannya dan bukannya perkembangan spritual sejati Tetapi dia juga dengan terbuka mempertanyakan dasar sufisme dalam Islam serta menuduhnya sebagai campuran teosofi,metafisika Yunani dan sedikit dari Alquran dan As-sunnah, reaksi ulama Sufi muncul dengan sangat keras Gubernur damaskus menangkap az-zahrawi dan mengirimnya ke Istambul untuk diinvestigasi.

Setelah kejadian-kejadian ini Rida menulis dalam Al Manar untuk meng-ekspresikan kekagumannya keberanian dan kebebasan yang ditunjukkan Az-zahrawi tetapi Rida juga menganggap Az-zahrawi agak berlebihan dalam menyerang sufisme yang mana di kemudian hari bisa jadi Rida akan memberi dukungan yang lebih terbuka akan Tetapi dia dan Salafiyah Syiria lainnya sadar bahwa apa yang ditulisnya itu telah menimbulkan serangan balik kaum konservatif sehingga mereka menuntut Az-zahrawi untuk dibunuh karena ia seorang heretik dan kafir dan menuntut bahwa ulama Sufi seharusnya menentukan doktrin dan praktik Islami berlakukan secara legal.

Adapun beberapa tahun setelah itu Rida mengalami sendiri akibat serangannya kelompok Sufi tradisional di Damaskus dalam sebuah perjalanan melintasi Syria pada musim gugur 1908 dia mengunjungi kota Damaskus dan pada 24 Oktober Ia menyampaikan ceramah umum di masjid Umayyah yang menarik banyak pendengar dan menyampaikan khutbah kepada mereka tentang masalah yang aktual perlunya kemajuan Kombinasi yang tepat antara Islam dan ilmu dalam khutbahnya ini Rida mengancam praktek tawasul pada orang-orang suci yang sebelumnya telah terkenal melalui kampanye, yakni Abduh menantang bid`ah tapi masyarakat lebih menghubungkannya dengan wahhabiyyah, maka Rida tidak diperbolehkan menyelesaikan khotbahnya karena dia diinterupsi oleh seorang Syekh Sufi yang dengan penuh emosi mengungkapkan dukungannya terhadap praktek tersebut yakni praktek ziarah ke makam makam dan mempercayai keramat keramat para orang suci, Syeik ini memperingatkan para hadirin untuk tidak mendengarkan kritik seperti Rida dan kaum Wahhabiyyah  dan seorang Syekh yang lain menghasut para hadirin untuk menentang kaum Wahhabiyyah dan menuduh Rida sebagai salah satu seorang dari mereka serta memaksanya untuk meninggalkan masjid dan terjadilah kerusuhan di jalan yang timbul kemudian sekelompok orang menuntut Rida dibunuh maka mereka menyerang kaum Salafiyyah damaskus lainnya karena berpegang pada pandangan-pandangan wahhabiyyah yang sama.

PEMESANAN BUKU DISINI




Tuesday, 10 November 2015
Duniacahayahati.blogspot.com Situs tentang Ilmu Ma`rifatullah (Tauhid) Didalamnya banyak mengandung Ilmu Hikmah yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang diberikan Ilmu ini.

Bukti Bahwa Makhluk Tidak dapat membawa rezekinya sendiri
Oleh : Elfiansyah Elham Spd


Maha Benar Allah
Maha Benar Allah tampak jelas didalam Al Qur`an baik tertulis maupun berupa visual dalam kehidupan yang nampak ini bahwa Rezeki urusan Allah dan tidaklah satupun makhluk yang dapat memberikan rezeki, oleh sebab itu TAUHID lah lebih diutamakan daripada syariat itu agar dalam kehidupan sehari-hari tidak mendustakan Al Qur`an yang dibaca, pandai membaca namun saat divisualisasikan maka banyak yang mendustakannya.

Sebagaimana Allah Ta`ala Berfirman didalam Al Qur`an Suroh Al Ankabut (29 57-62):

كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۖ ثُمَّ إِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ (٥٧) وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ لَنُبَوِّئَنَّهُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ غُرَفً۬ا تَجۡرِى مِن تَحۡتِہَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيہَا‌ۚ نِعۡمَ أَجۡرُ ٱلۡعَـٰمِلِينَ (٥٨) ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَعَلَىٰ رَبِّہِمۡ يَتَوَكَّلُونَ (٥٩) وَڪَأَيِّن مِّن دَآبَّةٍ۬ لَّا تَحۡمِلُ رِزۡقَهَا ٱللَّهُ يَرۡزُقُهَا وَإِيَّاكُمۡ‌ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ (٦٠) وَلَٮِٕن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ‌ۖ فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ (٦١) ٱللَّهُ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُ لَهُ ۥۤ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ۬ (٦٢

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (57) Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (58) [yaitu] yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya. (59) Dan berapa banyak binatang yang tidak [dapat] membawa [mengurus] rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (60) Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka [dapat] dipalingkan [dari jalan yang benar]. (61) Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia [pula] yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (62).
Sebagaimana pada visual dalam video ini para semut tidak dapat mebawa rezekinya sendiri.


Kebanyakan pada kehidupan sehari-hari diri ini banyak sekali mendustakan dan merusak syahadat yang dibaca itu tetap saja yang terpandang Makhluk yang meberikan rezeki, Allah Terhijab dan Allah Tenggelam oleh Makhluk, berapa banyak manusia berlomba-lomba mentuhankan manusia satu sama lain ? inilah bahayanya jika hanya pandai membaca Al Qur`an namun tidak paham apa yang dibaca.


PEMESANAN BUKU DISINI




Sunday, 8 November 2015
Duniacahayahati.blogspot.com Situs tentang Ilmu Ma`rifatullah (Tauhid) Didalamnya banyak mengandung Ilmu Hikmah yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang diberikan Ilmu ini.

Disaat Al Qur`an di visualisasikan Maka Nampaklah dusta pada diri ini
Oleh : Elfiansyah ELham Spd

Al Qur`an bukanlah hanya semata tektual namun yang nampak inilah visualisasinya yang dapat dilihat dan dirasakan, banyak disekitar diri ini menemukan banyak yang pandai membaca Al Qur`an namun disaat visualnya nampaklah dusta semata yang ada terdengar pada kedua telinga ini hanyalah sumpah serapah, cacian dan makian seyogyanya ucapkanlah Shodaqollahul Adzim, bukan malah mencela apa yang dilihat dan mencaci makinya.

Sebagaimana dapatkan disaksikan pada Visual di bawah ini :


Video diatas adalah Kejadian dua orang yang menjadi Pelaku Pengemis di Masjid Raya Samarinda Kalimantan Timur yang sedang bertengkar dikarenakan ditegur oleh salah satu orang yang berprofesi sama sehingga terjadilah perkelahian yang mana seorang yang sudah lanjut usia merasa tersinggung ditegur dan salah satu pihak merasa lahannya di ambil.

Vidoe diatas adalah Visualisasi Al Qur`an yang nampak jelas dan terang maka jika melihat kejadian itu ucapkanlah Shodaqollahul Azhim ( Maha Benar Allah ) bentuk kesaksian pada diri melihat Al Qur`an secara Visual.

Namun disaat divisualisasikan banyak yang berjatuhan dan banyak yang tidak memahami apa yang dibaca itu, hanya sebatas tulisan semata.

Komentar Nitizen

Beberapa Komentarpun di Media Sosial akan nampak jelas hinaan cacian dan makian yang dilontarkan.

Sudahkah diri ini memahami Al Qur`an yang dibaca itu ?  



Download Aplikasi Real Market Indonesia V1 (Aplikasi Keilmuan)

PEMESANAN BUKU DISINI


Tuesday, 3 November 2015
Duniacahayahati.blogspot.com Situs tentang Ilmu Ma`rifatullah (Tauhid) Didalamnya banyak mengandung Ilmu Hikmah yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang diberikan Ilmu ini.

Kisah Nyata Imam Hanafi ( Abu Hanifah )



Nu'man bin Tsabit adalah nama asli dari Abu Hanifah, yang mana sekarang dikenal dengan IMAM HANAFI yakni Imam tertua dari Imam yang lainnya seperti Imam Malik, Imam As-Syafi`i dan Imam Hanbali.
Abu Hanifah sedang berjalan dan  berpapasan dengan seorang anak kecil yang berjalan mengenakan terompah kayu, maka Abu Hanifah menegur :"Hati-hati nak dengan sepatu kayumu itu, Jangan sampai kau tergelincir".

Seorang anak kecil itupun tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas perhatian Abu Hanifah, kemudian anak kecil itu bertanya ""Bolehkah saya mengetahui namamu Tuan?" 
Dijawab oleh Abu Hanifah :"Nu'man bin Tsabit"
Jadi, Tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelar Al-imam Al-A'dhom. (Imam agung) itu..?" 
Abu Hanifahpun menjawab :"Bukan aku yang memberi gelar itu, Masyarakat-lah yang berprasangka baik dan memberi gelar itu kepadaku"


Anak kecil itupun berkata :"Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka karena gelar, sedangkan Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskan-mu ke dalam api yg kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya".

Abu Hanifah langsung tersungkur menangis, Imam Abu Hanifah bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang anak kecil.
"SEPASANG TANGAN YG MENARIKMU SAAT TERJATUH LEBIH HARUS KAU PERCAYAI DARIPADA SERIBU TANGAN YANG MENYAMBUTMU SAAT TIBA DI PUNCAK KESUKSESAN"
Ambillah hikmah dibalik kisah nyata ini dan jadikanlah suatu pelajaran penting pada diri ini dalam menjalani proses kehidupan yang sedang dijalani.



Bagi yang ingin mengakses melalui Iphone atau Android silahkan klik tombol dibawah ini :




PEMESANAN BUKU DISINI




Friday, 30 October 2015
Duniacahayahati.blogspot.com Situs tentang Ilmu Ma`rifatullah (Tauhid) Didalamnya banyak mengandung Ilmu Hikmah yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang diberikan Ilmu ini.

Keputusan Mahkamah Agung Terhadap Syiah, Ahmadiyah dan LDII

Keputusan Mahkamah Agung sudah terbit dan menyatakan Ajaran Syiah Menyimpang maka untuk Kaum Muslimin dan Muslimah untuk berhati-hati dan memberikan informasi jika masih ada ajaran-ajaran Syiah, LDII dan Ahmadiyah masih melakukan aktifitas-aktifitas yang menyesatkan ummat Islam walaupun dengan dalil Qur`an dan Hadits.

SNH Advocacy Centre: Mahkamah Agung Telah Putuskan Syiah Menyimpang Kamis 15 Muharram 1437 / 29 October 2015 16:56

DIREKTUR Eksekutif SNH Advocacy Center, Sylviani Abdul Hamid menilai Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Walikota Bogor sudah tepat dan benar sesuai dengan hukum yang berlaku.

Sylviani mengingatkan kepada para pejabat agar tidak lupa ingatan dan keluar dari konteks hukum di mana Mahkamah Agung telah memutuskan bahwa ajaran syiah menyimpang dari agama Islam sebagaimana tertuang dalam Putusan Mahkamah Agung No.1787 K/Pid/2012 dengan terpidana Tajul Muluk yang merupakan salah seorang petinggi Syiah.

“Kasus Tajul Muluk jelas terbukti ajaran Syiah menyimpang dari Islam dan merupakan penodaan terhadap Agama Islam sebagaimana disebutkan dalam Pasal 156 huruf a KUHP. Kasusnya tersebut sudah inkracht van gewijsde, artinya sudah berkekuatan hukum tetap,” ujar Sylvi kepada Islampos, Kamis (29/10).

Sylvi mengingatkan bahwa Indonesia adalah Negara hukum, maka segala tindakan harus sesuai dengan hukum.

Begitu juga Surat Edaran yang sudah di keluarkan Oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang Ahmadiyah dan LDII yang mana dinyatakan Ajaran yang menyimpang dan Sesat menyesatkan.

Walaupun ada Perubahan pada LDII namun kenyataan dilapangan masih menerapkan Konsep-Konsep Mengkafirkan (takfiri) dan Tidak Sah sholat yang di Imami oleh yang bukan Imam mereka atau golongan mereka, kedustaan-kedustaan LDII begitu nampak jelas dan terang dalam hal ini.


Baca Juga KITAB ALHIKAM SESAT DAN MENYESATKAN

Bagi yang ingin mengakses melalui Iphone atau Android silahkan klik tombol dibawah ini :




PEMESANAN BUKU DISINI




Mippin feed Validation Key = mfvkvfm7824
Duniacahayahati.blogspot.com Situs tentang Ilmu Ma`rifatullah (Tauhid) Didalamnya banyak mengandung Ilmu Hikmah yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang diberikan Ilmu ini.

Penyakit UJUB yang Akut pada diri
Oleh : Elfiansyah Elham Spd


Setiap Manusia tentu tidaklah lepas dari penyakit Ujub ini kecuali orang-orang Pilihan seperti Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassalam, Penyakit Ujub ini masuk kepada Syirik Khofi (Syirik yang tersembunyi.
  • Bila Allah mudahkan untuk diri ini mengerjakan sholat 5 waktu, Sunnah dan Sholat Malam, maka berusahalah untuk tidak memandang rendah orang-orang yang tidur dan belum melaksanakannya.
  • Bila Allah mudahkan untuk diri ini melaksanakan puasa, maka berusahalah untuk tidak memandang orang-orang yang tidak bepuasa dengan pandangan yang menghinakan serta merendahkan.
  • Bila Allah memudahkan untuk diri ini pergi untuk berjihad, maka berusahalah untuk tidak memandang orang-orang yang tidak berjihad dengan pandangan sinis serta meremehkan.
  • Bila Allah memudahkan pintu rezeki untuk diri ini, maka berusahalah untuk tidak memandang orang-orang yang berhutang dan kurang rezekinya dgn pandangan yang mengejek dan mencela. Karena itu adalah titipan Allah yang akan dipertanggung jawabkan kelak dan dalam kebaikan ada keburukan yang meliputinya yang mana masuk kedalam Hal Istidroj yang dapat menjerumuskan diri ini kelembah malapetaka di Akhirat kelak.
  • Bila Allah mudahkan pemahaman agama untuk diri ini, maka berusahalah untuk tidak memandang remeh kepada orang-orang yang belum memahami agama dengan pandangan hina.
  • Bila Allah mudahkan ilmu untuk diri ini, Maka berusahalah untuk tidak sombong dan bangga diri. karena Allah lah yang memberi mu pemahaman itu.
Boleh jadi yang dipandang remeh, hina dan sinis itu lebih baik dari pada diri ini

Ibnul Qayyim berkata: "Sungguh engkau terlelap tidur semalaman dan pagi harinya menyesal lebih baik daripada qiyamul lail semalaman namun pagi harinya engkau merasa takjub dan bangga diri. Sebab orang yang merasa bangga dengan amalnya tidak akan pernah naik (diterima) amalnya"

Baca Juga KITAB ALHIKAM SESAT DAN MENYESATKAN

Bagi yang ingin mengakses melalui Iphone atau Android silahkan klik tombol dibawah ini :




PEMESANAN BUKU DISINI




Sunday, 25 October 2015
Duniacahayahati.blogspot.com Situs tentang Ilmu Ma`rifatullah (Tauhid) Didalamnya banyak mengandung Ilmu Hikmah yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang diberikan Ilmu ini.

Tauhid Bab Syirik Khofi (Tersembunyi)
Oleh : Tim Tauhid Nuurul Fuaad 

Pada Kajian Ma`rifatullah pada Bab Syirik Khofi yakni Syirik tersembunyi sangat penting dalam mempelajarinya dan merupakan suatu kewajiban yang harus diketahui oleh para Salik untuk berusaha mencapai jalan dalam Ma`rifatullah.


Namun yang perlu di ingatkan bahwa dalam Hal Riya dan Sum`ah perlu ada tambahan agar tidak salah dalam hal ini disebabkan dalam hal yang disampaikan oleh Ustadz Elfiansyah Elham Spd adalah : rangkuman dari Kajian yang diadakan Di Majelis Nuurul Fuaad.

وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ 

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya“. (Ad-Dhuhaa: 11)

Menyiarkan suatu Kenikmatan dalam hal kebaikan merupakan istilah yang lazim digunakan untuk memvisualisasikan kebahagiaan seseorang atas kenikmatan yang diberikan oleh Allah Ta`ala kepadanya atas anugerah itu seseorang perlu menceritakan atau menyebut-nyebut dan memberitahukannya kepada orang lain sebagai implementasi rasa syukur yang mendalam. 

Perintah untuk menceritakan kenikmatan pada ayat yang tercantum diatas ditujukan khusus untuk Rasulullah Sholallahu alaihi Wassalam. Akan tetapi perintah dalam ayat ini tetap berlaku umum berdasarkan kaedah “amrun lir Rasul Amrun li Ummatihi” (perintah yang ditujukan kepada Rasulullah, juga perintah yang berlaku untuk umatnya secara prioritas).

Sebagaimana Ibnu Katsir pada kitab tafsirnya, berdasarkan korelasi ayat per ayat dalam surah Ad-Dhuha, “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberimu petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Oleh karena itu, siarkanlah segala jenis kenikmatan tersebut dengan memujinya, mensyukurinya, menyebutnya, dan menceritakannya sebagai bentuk i’tiraf (pengakuan) atas seluruh nikmat tersebut.”

Para ulama tafsir sepakat bahwa pembicaraan ayat ini dalam konteks mensyukuri nikmat yang lebih tinggi dalam bentuk sikap dan implementasinya. Az-Zamakhsyari, misalnya, memahami tahadduts bin ni’mah dalam arti mensyukuri segala nikmat yang dianugerahkan oleh Allah dan menyiarkannya. Lebih luas lagi Abu Su’ud menyebutkan, tahadduts bin ni’mah berarti mensyukuri nikmat, menyebarkannya, menampakkan nikmat, dan memberitahukannya kepada orang lain.

Berdasarkan ayat di atas, maka mayoritas ulama salaf menganjurkan agar memberitahukan kebaikan yang dilakukan oleh seseorang jika ia mampu menghindarkan diri dari sifat riya’ dan agar bisa dijadikan contoh oleh orang lain. Sehingga secara hukum, tahadduts bin ni’mah dapat dibagi kepada dua kategori: jika terhindar dari fitnah riya’, ujub, dan tidak akan memunculkan kedengkian pada orang lain, maka sangat dianjurkan untuk menyebut dan menceritakan kenikmatan yang diterima oleh seseorang.

Namun, jika dikhawatirkan akan menimbulkan rasa dengki, dan untuk menghindarkan kerusakan akibat kedengkian dan tipu muslihat orang lain, maka menyembunyikan nikmat dalam hal ini bukan termasuk sikap kufur nikmat. Lebih tegas Imam Asy-Syaukani berpendapat bahwa tahadduts bin ni’mah bukan termasuk bagian dari tafaakhur (berbangga-bangga) maupun takabbur yang sangat dibenci oleh Allah Ta`ala. sebagaimana Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Luqman: 18).

Tahadduts bin ni’mah dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya atas kenikmatan materi yang diterima seseorang. Atas kesungguhan beribadah dan taufiq untuk menjalankan amal shalih juga layak dan tidak ada salahnya untuk diceritakan dan diberitahukan kepada orang lain. Ini sebagai sebuah ungkapan rasa syukur dan agar bisa ditiru serta dijadikan contoh. Namun, tentu kepada mereka yang diharapkan mengikuti kebaikan dan amal sholeh tersebut.

Dalam hal ini Hasan bin Ali menyatakan tentang hal itu, “Jika engkau mendapatkan kebaikan atau melakukan kebaikan, maka sebutlah dan ceritakanlah di depan saudaramu yang kamu percayai bahwa ia akan mengikuti jejak yang baik tersebut.” 

Adapun Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, “Setiap kali aku bangun pagi, aku biasa menyebut amal yang aku lakukan di malam hari; aku sholat sekian, berdzikir sekian, membaca Al-Qur’an sekian dan sebagainya.” Ketika para sahabatnya mempertanyakan yang dilakukan oleh Abu Firas termasuk dalam kategori riya’, dengan tenang ia menjawab, “Allah memerintahkan dalam ayat-Nya untuk menceritakan kenikmatan, sedangkan kalian melarang untuk menyebut kenikmatan?”
Maka tahadduts bin ni’mah merupakan salah satu kendali agar tidak terjerumus ke dalam kelompok yang dikecam oleh Allah karena menyembunyikan nikmat dan mengingkarinya serta tidak mengakui anugerah tersebut berasal dari Allah Ta`ala. Allah berfirman, “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (An-Nahl: 83).

Adapun Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah menegur seorang sahabat yang berpenampilan jauh dan terbalik dengan kenikmatan yang diterimanya. Seperti yang dikisahkan oleh Imam Al-Baihaqi bahwa salah seorang sahabat pernah datang menemui Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam dengan berpakaian lusuh dan kumal serta berpenampilan yang membuat sedih orang yang memandangnya. Melihat keadaan demikian, Rasulullah bertanya, “Apakah kamu memiliki harta?” Sahabat tersebut menjawab, “Ya, Alhamdulillah, Allah melimpahkan harta yang cukup kepadaku.” Maka Rasulullah berpesan, “Perlihatkanlah nikmat Allah tersebut dalam penampilanmu.” (Syu’abul Iman, Al-Baihaqi).

#WAAMMABINIKMATI  #Riya  #Ujub  #Robbika  #Fahadits 


Baca Juga KITAB ALHIKAM SESAT DAN MENYESATKAN

Bagi yang ingin mengakses melalui Iphone atau Android silahkan klik tombol dibawah ini :




PEMESANAN BUKU DISINI


Tuesday, 20 October 2015
Duniacahayahati.blogspot.com Situs tentang Ilmu Ma`rifatullah (Tauhid) Didalamnya banyak mengandung Ilmu Hikmah yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang diberikan Ilmu ini.

Dasar-Dasar Ma`rifatullah Pembatalan Syahadat yang Nampak

Pada diri ini sering menyaksikan pembatalan syahadat secara visualisasi dalam artian pada yang nampak dalam kehidupan ini sehari-hari, ternyata saat ini Ajaran Islam hanyalah pada Teori semata tidak meningkat pada kenyataan yang nampak pada diri karena banyaknya penyaksian yang terlihat jauh dari apa yang di ucapkan atas syahadat itu sendiri.

Adapun dalam hal ini Ustadz Elfiansyah Elham Spd Menjelaskan secara sederhana dalam memahami Keilmuan dasar-dasar Ma`rifatullah yang mana ilmu ini adalah PONDASI MUTLAQ dalam menjalankan syariat yang diperintahkan oleh Allah Ta`ala, dapat disaksikan melalu video pada kajian Islam Majelis Nuurul Fuaad sindangsari kecamatan Sambutan Kota Samarinda.

Video Dasar-Dasar Ma`rifatullah



Silahkan membaca Kajian-Kajian Tauhid pada Blog ini dan sikapilah dengan penuh kehati-hatian, berusahalah selalu memohon perlindungan kepada Allah Ta`ala dalam mempelajari keilmuan Tauhid.

Karena mempelajari Tauhid meninggalkan Syariat adalah : KAFIR ZINDIK.


Baca Juga KITAB ALHIKAM SESAT DAN MENYESATKAN

#Alhikamsesat    #KitabAlhikam #TauhidulAf`al   #TauhidulRubbubiyyah  #IbnuArabi #Alfuaadfinuurin  #Alfuaadfinurin #Tasawuf  #Ma`rifatullah

Bagi yang ingin mengakses melalui Iphone atau Android silahkan klik tombol dibawah ini :





PEMESANAN BUKU DISINI


Monday, 19 October 2015
Duniacahayahati.blogspot.com Situs tentang Ilmu Ma`rifatullah (Tauhid) Didalamnya banyak mengandung Ilmu Hikmah yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang diberikan Ilmu ini.

Alergi Belajar Tauhid (Ma`rifatullah) Rusaklah Hati dan Jasad

Oleh : Elfiansyah Elham Spd


Pahami siapa yang Disembah yakni yang Maha mengabulkan do`a adakah Do`a kita dikabulkan oleh-Nya ?
Manusia sengaja diciptakan untuk menjadi musuh sebagian musuh yang lainnya (Dalil yang nampak dalam Al Qur`an)
Adapun yang tidak nampak (khofi) namun dapat divisualisasikan sehari-hari :
engkau berdoa minta sehat || sang dokter, perawat,tukang Obat, Karyawan Apotik berdoa minta rezeki..
engkau berdoa memohon keselamatan dijalan || tukang bengkel kendaraan juga memohon rezeki.
Satpam (Security) memohon rezeki (agar ada kerjaan), || sang pencuri juga memohon rezeki dan keselamatan.
engkau memohon dihindarkan marabahaya,|| Pengelola Rumah sakit juga memohon dilimpahkan rezeki dn seterusnya.
Engkau memohon agar dimudahkan rezeki, || Lintah Darat (Rentenir) juga memohon rezeki.....(gayung bersambut alias Jadian)...
Intinya adalah : TAUHID diutamakan daripada syariat itu sendiri bagaimana tiang bisa ditegakkan tanpa pondasi dan bagaimana bisa merasakan keikhlasan jika tidak pernah menyentuh keilmuan Tauhid dalam mengenal-Nya.
Jikalau umat manusia belajar Tauhid (Ma`rifatullah) dan diberikan oleh-Nya kepemahaman maka setiap manusia mengetahui bahwa diri ini dicipta untuk ujian manusia lainnya begitu juga manusia yang lainnya ujian buat diri ini Maka rasa Keikhlasan pada diri manusia akan diberikan oleh Maha Pemberi Ikhlas namun ketetapan Allah sudah berlaku.

Yakni Kebanyakan Manusia Alergi jika sudah mendengar TAUHID (MA`RIFATULLAH)  apalagi mengkajinya.

BAIK & BURUK TERBIT DARI YANG SATU

Buruk dalam pandangan Manusia maka Berbaik sangkalah kepada-Nya.................................

"Janganlah engkau dustakan bahwa dirimu adalah hamba yang tiada daya dan upaya"

Baca Juga : "Syarah Tauhidul Af`al dan Tauhidul Rubbubiyyah"

Bagi yang ingin mengakses melalui Iphone atau Android silahkan klik tombol dibawah ini :




PESAN BUKU AL FUAAD FI NUURIN ( KEMURNIAN TAUHID )

Sunday, 18 October 2015
Duniacahayahati.blogspot.com Situs tentang Ilmu Ma`rifatullah (Tauhid) Didalamnya banyak mengandung Ilmu Hikmah yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang diberikan Ilmu ini.

SYARAH TAUHIDUL AF`AL DAN TAUHIDUL RUBBUBIYYAH

Oleh : Elfiansyah Elham Spd

Walaupun Engkau Semangat dalam Berda`wah dan Berikhtiar mencari Nafkah tetap saja engkau tidak dapat mengores dinding Taqdir yang sudah ditetapkan-Nya.
Jikalau Ikhtiar itu Mutlaq Milik Manusia maka tentu semua akan mencapai apa yang ingin dicapainya, JIkalau Da`wah itu Mutlaq Milik Manusia maka barang tentu semua Manusia akan mengikutinya.
Jikalau Al Qur`an itu Kitab Suci Ummat Islam sebagai Petunjuk maka tidak berlaku lagi petunjuk itu jika selesai dibaca karena sudah merasa mendapat petunjuk dan tentu ummat Islam mendapat petunjuk semua.
Disebabkan Petunjuk itu Bukan pada Tulisan diatas kertas semata. Disinilah Nampak PERBUATAN ALLAH TA`ALA ( TAUHIDUL RUBBUBIYYAH / TAUHIDUL AF`AL).

Jikalau Hukum Sebab itu sebagai Hukum Mutlaq yang diyakini maka tentu banyak Sebab orang yang jatuh kepada Kesyirikan baik pada Perbuatan baik itu sendiri, bergantung kepada hukum sebab adalah suatu Kesyirikan yang Jali (Terang) dan meninggalkan hukum sebab adalah suatu kebodohan yang Nyata, bahkan Apipun sebagai penyebab kebakaran dan bersifat panas akan menghanguskan Tubuh Nabi Ibrahim Alaihi Salam.

Jikalau dilintas Hati ada kehendak selain Kehendak Allah pada yang nampak didepan mata ini yang sudah terjadi maka Hidup ini, hidup DILUMPUR MURTAD SEMATA.


#BelajarTauhid    #AlergiTauhid  #TauhidulAf`al   #TauhidulRubbubiyyah  #LumpurMurtad #Alfuaadfinuurin  #Alfuaadfinurin

Bagi yang ingin mengakses melalui Iphone atau Android silahkan klik tombol dibawah ini :





PESAN BUKU AL FUAAD FI NUURIN ( KEMURNIAN TAUHID )

Duniacahayahati.blogspot.com Situs tentang Ilmu Ma`rifatullah (Tauhid) Didalamnya banyak mengandung Ilmu Hikmah yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang diberikan Ilmu ini.

PANDANGAN IBN HIBBAN PADA SIFAT ALLAH TA`ALA


Kitab Sahih yang ditulis oleh Imam Muhammad Ibn Hibban yang Wafat.354 Hijriyyah Adapun Kitab yang masyhur yakni “Sahih Ibn Hibban”.

Namun perlu diketahui bahwa ini sebenarnya berjudul “Al-Taqasim wal Anwa’ . dalam Kitab ini sangatlah sukar memahami susunannya apalagi dengan keterbatasan keilmuan yang dimiliki oleh sebab itu  seorang Tokoh yang bernama Ali Ibn Balban Al-Farisi yang wafat 739 Hijriyyah merubah susunan kitab ini menjadi bab-bab fiqh agar mudah digunakan, lalu diberi nama “Al-Ihsan fi Tartib Sahih Ibn Hibban.

Dalam hal ini Ibn Hibban  menggunakan metode lintas kedisiplinan pada kandungan hadits-hadits Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam pada perintah ataupun larangan, begitu juga pada khabar (berita) dan lain-lain, dimaknai dengan amat sangat teliti dan sejalan dengan kaidah-kaidah yang diterima oleh para fuqaha. 

Kitab ini merupakan sesuatu yang di analogkan sebagai samudera luas yang mengandungi pelbagai mutiara yang banyak belum tersentuh oleh manusia. Berbagai aspek kajian yang sudah dilakukan pada kitab ini, namun tetap terlalu sedikit yang didapatkan berbanding ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya.

Hadits-Hadits Sifat Allah Ta`ala 

Hadits-hadits sifat Allah Ta`ala yang dimaksudkan ialah pelbagai riwayat yang berasal dari Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam yang menyebut Dzat dan sifat-sifat Allah Ta`ala. 

Dalam kajian Ilmu ini, riwayat-riwayat ini melahirkan dua pendekatan para ulama dalam menyikapinya dengan dua metode ini sudah Masyhur, Yakni : 

1.Tafwid (Masyhur di kalangan ulama generasi salaf)
2.Takwil (Masyhur di kalangan khalaf). 

Adapun Sikap Imam Ibn Hibban dalam hal ini sangat berbeda dengan sikap gurunya, Imam Muhammad bin Ishaq Ibn Khuzaimah yang wafat 311Hijriyyah, sedangkan Ibn Khuzaimah cenderung “menetapkan (ithbat)” Hadits-hadits itu sesuai dengan zhohirnya tanpa takwil, Sebagaimana terlihat dalam kitabnya yang bertajuk “Kitab Al-Tauhid wa Ithbat Sifat Al-Rab”

Ibn Hibban amat disiplin serta aktif dalam menafsirkan setiap kata yang mengandungi kesan tasybih dalam hadis-hadis tersebut berpandukan kaidah bahasa Arab yang sangat relevan.

Ibn Hibban berpendapat bahwa kata-kata seperti ini mesti dipahami sesuai dengan konteks dan tradisi berbahasa yang hidup di masyarakat Arabia kala itu. Bahasa Arab terkenal sangat kaya dengan pelbagai gaya bahasa (uslub), Bahasa yang mengandung hikmah yang tersirat dan dapat dipahami oleh orang yang diberikan kepemahaman, salah satunya penggunaan tamthil (perumpamaan) dan tasybih (penyerupaan), dalam praktik perbincangan mereka. Tamthil dan tasybih ini dikenal kemudian dalam perkembangan Ilmu Balaghah dengan sebutan: majaz. Setiap pembaca hadis harus sadar akan adanya aspek majaz ini apabila membaca hadits-hadits Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam, dan harus segera menghindari penafsiran hakikat bagi kata-kata majazi.

Baca Juga "SYARAH TAUHIDUL AF`AL DAN TAUHIDUL RUBBUBIYYAH"

Majaz dalam Hadits-Hadits Sifat Allah Ta`ala

dalam hal ini Ibn Hibban dan jumhur ulama, berpendapat bahwa hadits dikandungi oleh majaz sebagaimana Al-Qur’an dan teks-teks berbahasa Arab lainnya. Sebab majaz adalah bahagian yang tidak terpisahkan dari tradisi berkomunikasi yang dilakukan bangsa Arab.

Maka berkata Ibn Al-Sayyid al-Bathliyusi yang wafat 521 Hijriyyah “Inilah pendapat yang benar, tidak boleh selainnya.” Lihat Abdullah bin Muhammad Ibn Al-Sayid Al-Batlyusi, “Al-Inshaf fi Al-Tanbih ‘ala Al-Ma’ani wa Al-Asbab allati awjabat Al-Ikhtilaf bayna Al-Muslimin fi Ara’ihim”, yang di tahqiq Dr Muhamad Ridwan Al-Dayah, Damsyiq: Dar Al-Fikr, 1987, cet. ke-3, hal. 71.
Ibn Hibban berkata “Menyebutkan hadits yang menunjukkan bahawa lafaz-lafaz ini yang berasal daripada kategori ini menggunakan lafaz-lafaz tamthil dan tasybih sesuai dengan tradisi masyarakat (Arab) tanpa menghukumkan dengan zahirnya.”
Ibn Hibban kemudian meriwayatkan hadis qudsi yang berisi perbincangan antara Allah Ta`ala dan seorang hamba pada hari kiamat yakni : 
Allah berkata kepadanya: “Wahai anak Adam, aku sakit kenapa engkau tidak menjengukku? Manusia itu berkata: Wahai tuhan, bagaimana aku menjenguk-Mu padahal engkau adalah tuhan alam semesta? Allah berfirman: Tidakkah engkau mengetahui bahwa hambaku Si Fulan tengah sakit, namun engkau tidak menjenguknya. Tidakkah engkau tahu, bahawa jika engkau menjenguknya, engkau akan menemukan Aku di sisinya.”

“Al-Ihsan fi Tartib Sahih Ibn Hibban”, tahqiq Kamal Yusuf Al-Hut, [Beirut: Dar Al-Fikr, 1987] 1/243.

Ibn Hibban menjadikan hadits ini sebagai hujjah bahwa Allah dan Rasul-Nya menggunakan kalimat-kalimat majaz tanpa menginginkan makna hakikat kata tersebut (“Aku sakit, mengapa engkau tidak menjenguk-Ku?”). Kalau begitu, maka menjadi kewajiban manusia untuk menangkap dengan teliti pesanan yang disampaikan tanpa terjerumus dalam kekeliruan.
Dari dasar inilah, Ibn Hibban berikhtiar menafsirkan setiap hadits yang menyebutkan sifat-sifat Allah, yang zhohirnya nampak menyerupai sifat-sifat makhluk, dengan cara yang tidak menyimpang dengan kaidah-kaidah bahasa Arab. 

Metode-Metode penafsiran Ibn Hibban 

1. Hadits Tentang “Diri (nafs)” Allah, “berjalan” dan “berlari”

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Sholallahu alaihi Wassalam bersabda: Allah Ta`ala berfirman: “Aku sebagaimana persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan aku bersamanya selama ia menyebut-Ku. Sesiapa yang menyebut-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan menyebutnya di dalam diri-Ku (nafsi). Jika ia menyebut-Ku di dalam kumpulan manusia, maka Aku akan menyebutnya di dalam kumpulan yang lebih baik. Jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa. Dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari.”

Ibn Hibban berkata: “Allah Ta`ala Sangat dan Terlalu Agung dan Tinggi untuk dinisbahkan baginya sifat-sifat makhluk, sebab tidak ada yang menyerupai-Nya sedikitpun. Kata-kata ini digunakan sesuai dengan tradisi (taaruf) yang berlaku di kalangan masyarakat.
Sesiapa yang menyebut Allah Ta`ala di dalam dirinya dengan ucapan atau perbuatan yang mendekatkan diri kepada-Nya, Allah akan menyebutnya di dalam kerajaan Malakut-Nya dengan maghfirah sebagai tanda kemurahan-Nya. Dan sesiapa yang menyebut tuhannya di dalam sekumpulan hamba-hamba-Nya, Allah akan menyebutnya di sisi para malaikat muqarrabin dengan maghfirah dan menerima zikirnya.
Sesiapa yang mendekat kepada tuhannya dengan melakukan ketaatan sekedar satu hasta, maka maghfirah lebih dekat kepadanya sekedar satu depa. Sesiapa yang mendatangi amalan-amalan ketaatan dengan cepat seperti berjalan, maka pelbagai rahmat, maghfirah dan kasih sayang Allah akan mendatanginya dengan lebih cepat seperti berlari. Allah lebih tinggi dan lebih agung.”

2. Hadits tentang “Tangan” Allah

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Sholallahu alaihi Wassalam Bersabda: “Tidaklah seorang hamba bersedekah dari hasil yang halal dan Allah hanya menerima dari yang halal dan hanya yang halal yang terangkat ke langit- melainkan sedekah itu seolah-olah diletakkan di tangan Allah yang Maha Pengasih ...” hingga akhir ke hadis.

Ibn Hibban berkata: “Kalimat (seolah-olah diletakkan di tangan Allah yang Maha Pengasih) menjelaskan bagimu bahwa hadits-hadits ini menggunakan lafaz tamthil tanpa ada hakikatnya atau diketahui kaifiatnya. Sebab lawan bicara (mukhatab) tidak memahami (pesanan) seperti ini melainkan dengan kata-kata yang disebutkan dengannya.”

Adapun pada hadits lain, dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad Sholallahu alaihi Wassalam bersabda: “Tangan kanan Allah sangat penuh, tidak berkurang karena perbelanjaan. Selalu memberi di waktu siang dan malam. Tahukah kamu berapa banyak yang telah Allah belanjakan sejak menciptakan langit dan bumi? Sesungguhnya ia tidak mengurangi apa yang ada di sisi-Nya. Tangan yang lain menggenggam, mengangkat dan menurunkan. Dan Arasy-Nya di atas air.”

Ibn Hibban berkata: “Hadits-hadits yang disebutkan ini membuat orang yang tidak menguasai ilmu menyangka bahwa ahli hadits adalah musyabihah (menyerupakan Allah dengan makhluk). Kami berlindung kepada Allah daripada terlintas pikiran itu di benak satu orangpun ahli hadits.
Namun hadits-hadits ini menggunakan tamthil (majaz) untuk sifat Allah sesuai dengan (tradisi berbahasa) yang dikenal oleh masyarakat tanpa menyebutkan kaifiat sifat-sifat Allah. Maha tinggi tuhan kami daripada diserupakan dengan makhluk atau disebutkan kaifiat sifat-sifat-Nya. Sebab tidak ada yang menyerupai-Nya sedikitpun.”

3.Hadits tentang “Kaki” Allah

yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Sholallahu alaihi Wassalam bersabda: “Dilemparkan (ahli neraka) ke dalam Neraka, dan Neraka terus berkata: tambahkan lagi. Sehingga Allah Swt meletakkan kaki (qadam)-Nya di dalam Neraka, maka ia berkata: cukup, cukup.”

Berkata Ibn Hibban: “Hadits ini termasuk hadits-hadits yang menggunakan tamthil mujawarah. Pada hari kiamat, dicampakkan ke dalam Neraka manusia-manusia dan tempat-tempat yang dilakukan maksiat di dalamnya. Neraka terus meminta untuk ditambahkan, sehingga Allah Subhanahu wa Ta`ala meletakkan tempat (berpijak) orang-orang kafir dan tempat-tempat maksiat itu di dalam Neraka. Maka penuhlah Neraka, sehingga ia berkata: cukup-cukup.

Bangsa Arab menggunakan di dalam bahasanya lafaz kaki (qadam) untuk makna: tempat (berpijak). Allah Ta`ala berfirman: mereka akan mendapatkan qadam yang baik di sisi tuhannya (Qs Yunus ayat 2), Yakni: tempat yang baik. Bukan maknanya bahwa Allah Ta`ala meletakkan kaki-Nya di dalam Neraka. Maha tinggi Allah daripada pemahaman seperti ini dan yang seumpama dengan-Nya.”

4. Hadits Tentang Allah “Tertawa”

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Allah Subhanahu wa Ta`ala tertawa karena dua orang laki-laki. Salah seorang daripada keduanya membunuh yang lain, namun keduanya masuk syurga.”

Ibn Hibban berkata: “Hadits ini termasuk dalam kategori yang aku sebutkan dalam kitab-kitabku, bahwa bangsa Arab seringkali menyandarkan perbuatan kepada pihak yang memerintahkan (perbuatan itu), sebagaimana hanya disandarkan kepada pelaku (perbuatan itu). Begitu juga, sebuah gerakan makhluk seringkali disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala,

Sabda Nabi Sholallahu alaihi wassalam: Allah tertawa karena dua orang laki-laki, maknanya: Allah membuat para malaikat tertawa dan kagum melihat seorang laki-laki kafir yang membunuh muslim, kemudian Allah memberinya hidayah sehingga ia masuk Islam setelah itu, maka keduanya masuk syurga. Allah membuat mereka kagum dan tertawa atas suatu kejadian yang telah ditentukan-Nya. Maka dinisbahkan tertawa yang merupakan perbuatan malaikat kepada Allah Subhanahu Wa Ta`ala, sebab Allah yang memerintahkan dan menghendakinya.

Dalam hal ini Penulis tidak sependapat kepada Ibnu Hibban bahwa malaikat yang Tertawa dengan di nisbahkan pada kalimat : Allah Tertawa. walaupun ditutup kalimatnya oleh Ibnu Hibban dengan Sebab Allah yang memerintahkan dan menghendakinya ( akhir-akhirnya tetap kembali juga kepada Allah), ini membuat putaran-putran yang penulis tidak perlu dilakukan (Elfiansyah Elham Spd)

C. Ibn Hibban dan Tafwid

Ibn Hibban  juga mengambil sikap tafwid, yakni hanya menerima dan mengimani tanpa penafsiran. Saya melihatnya sebagai sebuah sikap berhati-hati apabila tidak menemukan penafsiran yang cukup meyakinkan untuk kalimat yang hendak ditafsirkan. Sejauh bacaan saya, tidak satu orangpun yang mampu mentakwil semua kalimat dalam hadits sehingga meninggalkan tafwid sama sekali, sebagaimana tidak ada satu orangpun yang mampu berpegang kepada tafwid sepenuhnya sehingga meninggalkan takwil sama sekali.

Beliau berkata: “Sifat-sifat Allah tidak dapat dijelaskan kaifiatnya dan tidak dapat dikias dengan sifat makhluk. Sebagaimana Allah berbicara tanpa alat  dengan gigi, lidah dan bibir seperti makhluk, maha tinggi Allah dari penyerupaan ini, dan tidak boleh dikias ucapan-Nya dengan ucapan kita karena ucapan makhluk menggunakan alat, sementara Allah berbicara seperti :mana kehendak-Nya tanpa alat- maka begitu juga Allah turun tanpa alat, pergerakan dan perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain...”
"الحمد لله الذي ليس له حد محدود فيحتوى، ولا له أجل معدود فيفنى، ولا يحيط به جوامع المكان ولا يشتمل عليه تواتر الزمان"

“Segala puji bagi Allah, Dzat yang bukan merupakan benda yang memiliki ukuran. Dia tidak terikat oleh hitungan waktu maka Dia tidak punah. Dia tidak diliputi oleh semua arah dan tempat. Dan Dia  tidak terikat oleh perubahan zaman” (At-Tsiqât, Jilid. 1, hal. 1).

Dalam kitab yang lain Ibn Hibban menuliskan:

"كان- الله- ولا زمان ولا مكان"

“Allah ada tanpa permulaan, Allah ada sebelum ada tempat dan waktu” (Shahîh Ibn Hibbân, j. 8, h. 4).

Ibnu Hiban Juga berkata:

"كذلك ينزل- يعني الله- بلا ءالة ولا تحرك ولا انتقال من مكان إلى مكان "

“Sifat Nuzûl Allah bukan dengan alat, tidak dengan bergerak, dan bukan dalam pengertian berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain” (Shahîh Ibn Hibbân, Jilid. 2, Halaman. 136)

D. Metode-Metode Ahli Hadits

Metode pendekatan Ibn Hibban ini tidaklah asing di kalangan ahli hadits mutaqaddimin dan mutaakhirin. Pendekatan metodologis seperti ini pernah dipraktikkan oleh ahli hadis sebelum beliau seperti Ibn Qutaybah Al-Dinawari (w.276H) dan lain-lain.[11] Metod ini juga digunakan oleh ramai ahli hadis setelah beliau seperti Abu Sulaiman Al-Khattabi [w. 388 H], Ibn Furak Al-Isbahani [w. 406 H], Ibn Hazm Al-Zahiri [w. 456 H],[12] Al-Baihaqi [w. 458 H], Ibn Abdil Bar [w. 463 H], Abu Al-Wafa Ibn 'Aqil Al-Hanbali [w. 513 H], Ibn Al-Jauzi [w. 597 H], Al-Hafiz Ibn Daqieq Al-‘Ied [w. 702 H], Ibn Hajar Al-Asqalani [w.852H], hingga pakar-pakar hadis yang hidup pada hari ini.

Adapun pada sisi yang lain, dapat ditemukan pula golongan ahli hadits yang berarah kepada motode “menerima tanpa takwil” seperti Ibn Khuzaimah [w.311H], Al-Ajurri [w.360H], Ibn Mandah [w.470H], Ibn Taymiah [w.728H], Al-Dzahabi [w.748H], Ibn Al-Qayyim [w.751H], Ibn Kathir [w.774H] dan ramai ahli hadis lainnya.

Bagi yang ingin mengakses melalui Iphone atau Android silahkan klik tombol dibawah ini :





PESAN BUKU AL FUAAD FI NUURIN ( KEMURNIAN TAUHID )


Dapatkan segera

Terima Kasih kepada semua Sahabat-Sahabat FB sekali lagi terima kasih banyak bertahun-tahun kita bersahabat semoga kita selalu dalam lindungan-Nya Aamiin.

Posted by Kajian Islam Online on 16 Februari 2015

Categories

Memahami Bab Furuiyyah (2) Adab Islam dalam memasuki Rumah (1) Ahmadiyah dan LDII (1) Aku berda`wah untuk golongan kalian dan Golongan kalian tidak boleh menda`wahi golonganku (1) Al Fuaad Fi Nurin (1) Al Fuaad Fi Nuurin (1) Al HIkam sesat dan menyesatkan (1) Al Quran bagi diri ini hanya sebagai simbol dan hiasan semata (1) Alergi Belajar Tauhid (Ma`rifatullah) Rusaklah Hati dan Jasad (1) Allah Ta`ala ditenggelamkan oleh pelampung (1) Allah Ta`ala yang bersedekah buat diri ini (1) Amal Ibadah bukanlah Jaminan Surga (1) Amal sholat dan puasa akan nampak nilai setelahnya... (1) Apakah diri ini bodoh ikut-ikutan dalam mengkafirkan Golongan lain ? (1) Awal Keberadaan Sufisme dan Anti Sufisme (1) BAB HAID Bagi Wanita (1) BAB SHOLAT DALIL SEBELUM TAKBIR (1) BAB SHOLAT Takbiratul Ihkram (1) BAGAIMANA AHMAD IBNU IDRIS SEBAGAI TOKOH SUFI DAPAT BERGANDENGAN TANGAN DENGAN KAUM WAHHABIYYAH ? (1) BAKTI SEORANG ANAK TERHADAP IBUNYA YANG GILA (1) BENARKAH AKU BERIMAN ATAU ATHEIS (TAK BERTUHAN) (1) BENARKAH PROF QURAISH SHIHAB SYI’AH? (1) Bab Duduk antara dua sujud beserta doanya (1) Bab Salam dalam Sholat (1) Bab Sujud dan Bacaan Sujud (1) Bab Takbiratul Ikhram (1) Bab mengangkat kedua tangan ketika Takbir (1) Bagaimana Pergerakan Keilmuan Tasawuf semakin merebak di Penjuru Dunia dan banyak diterima di Masyarakat baik para pemuda maupun yang Lanjut Usia ? (1) Bagaimana mungkin diri ini beramal ibadah (1) Bantahan Umat Muslim Di Tolikara Papua (1) Belajar Tauhid haruslah Kaffah (1) Benarkah cinta kita kepada Allah ? (1) Benarkah diri ini mengenal Allah Ta`ala (Ma`rifatullah) (1) Berbagai Jenis Amal adalah karena berbagai Ahwal (1) Beriman yang Dusta atau Tidak pada Umat islam di Tolikara (1) Berimankah diri ini atau dusta semata ? (1) Bid`ah dan Khilafiyah yang akan selalu di debatkan sampai akhir zaman (1) Bodoh yang yang ditampakkan (1) Bukanlah diri ini seorang ahli hakekat jika masih suka mencela orang lain (1) Bukti Allah tidak menyukai orang yang bangga dengan amalnya (1) Bukti Bahwa Makhluk Tidak dapat membawa rezekinya sendiri (1) Buku Nahwu Shorof Bagi Pemula & Lanjut Usia (1) CAK NUN : "Sangat dilarang menyakiti hati orang lain" (1) DITIPU (1) Dai-Dai saat ini suka mencela Ulama Terdahulu (1) Dasar-Dasar Ma`rifatullah Pembatalan Syahadat yang Nampak (1) Disaat Al Qur`an di visualisasikan Maka Nampaklah dusta pada diri ini (1) Doa Iftitah (1) Doa dan amalan bukanlah sebagai jarak pemisah kepada Tuhan (1) Dusta Dalam Beramal dan beribadah kepada Allah (1) Dusta seorang Guru Tauhid yang Nampak Mendustakan (1) Fiqh Bab Niat (1) Fiqh Bab Wudhu (1) Fitnah yang nampak yang ditujukan kepada Dr ZAKIR NAIK hal INSHA ALLAH (1) Gendrang Jihad telah ditabuh di Kabupaten Tolikara (1) Hakekat Kemiskinan adalah ketika kehilangan harapan (1) Haram berzakat didalam masjid (1) Hikmah Syukur di balik Cobaan dan Ujian seorang Hamba (1) Hukum Mengirim Al Fatihah atau menghadiakan Al Fatihah kepada yang meninggal (1) Hukum Nun Mati dan Tanwin (1) IDGHAM BIGHUNNAH ( ادغم بغنة ) (1) I`tidal dari ruku (1) Ibadah Umrah dan haji yang didustakan dan mendustakan-Nya (1) Iblis namanya adalah Azazil dia termasuk dari malaikat-malaikat yang paling mulia (1) Ilmu Hikmah bukanlah Ilmu sesat (1) Ilmu Tajwid (1) Iman Bil Ghoib (1) Istiftah dan Al Fatihah (1) JALAN MEMPEROLEH MAKRIFAT (1) JANGAN ENGKAU DUSTAKAN KITAB SUCI MU SENDIRI (1) Jangan berbangga dengan kemajuan Zaman (1) Jika ada lintasan didalam hati ada kehendak selain kehendakNya maka MURTAD (1) Kajian Islam Ilmu Hikmah (1) Kajian Nahwu Shorof dan Fiqh Bit Takhrij Al Qur`an Wal Hadits (1) Kedustaan dan kesombongan dalam Tawadhu (Merendahkan diri) (1) Keputusan Mahkamah Agung Terhadap Syiah (1) Kesombongan yang mengecilkan diri sendiri (1) Kisah Nyata Imam Hanafi ( Abu Hanifah ) (1) Kitab Al Hikam Bukan Kitab yang sesat namun Malah Meluruskan (1) Kitab Al Hikam Sesat (1) Larangan waktu dalam menguburkan mayat (1) MPU Aceh mengeluarkan fatwa paham Salafi sesat menyesatkan (1) Maka diri ini terdiam: Allah Ta`ala ditenggelamkan oleh Tempe (1) Makna kedalaman Syahadat اَشْهَدُاَنْالَااِلَهَ اِلَّااللهُ (1) Manusia tetaplah manusia tidaklah mampu dalam hal apapun (1) Membedah Buku Sufi dan Anti Sufi (1) Mengapa Kaum Wahhabiyyah mengambil sikap penentangan extstrem terhadap Sufiesme ? (1) Mengetahui Kedudukan Di Sisi Allah (1) Menyekutukan Allah Ta`ala dengan kekuatan (1) Menyikapi Fatwa MPU terhadap Ajaran Salafy yang sesat dan menyesatkan (1) Muslim atau Bukan Muslim atau muslimah (1) PANDANGAN IBN HIBBAN PADA SIFAT ALLAH TA`ALA (1) PELAJARAN ISIM DHOMIR ( Kata Ganti ) (1) PENOLAKAN PADA TAREKAT OLEH KAUM WAHHABIYYAH (1) PERBEDAAN & BEDA KEPEMAHAMAN ITU HARUS ADA (1) Pandai Berma`rifatullah Sholatpun di tinggalkan (1) Pejabat Pemerintah yang Berdusta dan Kejam (1) Pelajaran Nahwu Shorof Bab Al Marifat & Annakiroh (1) Penghuni Surga dan neraka sudah ditetapkan (1) Penyakit UJUB yang Akut pada diri (1) Perselisihan Kedudukan Orang Tua Rasulullah yang dinyatakan Masuk Neraka (1) Praktek Syeikh Sufi yang jauh dari Al Qur`an dan As-Sunnah (1) Puasaku hanyalah dusta semata kepada Allah (1) Pujian Hanya Bagi Allah Ta`ala semata (1) Rasionalkah Beribadah & Hukum Insya Allah (1) Ruku dan Bacaan Ruku (1) SHOHIH HADITS QUDSI (1) SURGA MILIKU BUKAN MILIK GOLONGANMU (1) SYARAH TAUHIDUL AF`AL & TAUHIDUL RUBBUBIYYAH (1) Salafi yang suka menyesatkan (1) Sedekah Perkataan yang Baik itu lebih baik dari harta (1) Sesatkah Doa Abu Nuwas Amal jadi alat sambung atau Pemisah (1) Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907) (1) Sholat bukanlah hanya sekedar Sholat (1) Sholat sekedar Sholat Kerapunpun bisa sholat (1) Siapakah Ibnu Arabi yang di Kafirkan Wahhabi ? (1) Siapapun Diri ini tidak ada andil (1) Syariat yang menipu pandangan mata manusia (1) Syukur yang dibaca namun didustakan setiap harinya (1) TAHUKAH ANDA ? (1) TERTIPU ATAU PURA-PURA BODOH TERHADAP JAMINAN ALLAH (1) Tanda-Tanda Manusia yang Tidak Ikhlas pada Ketetapan Allah (1) Tasawuf dan Sufi gadungan (1) Tauhid Bab Syirik Khofi (Tersembunyi) (1) Tauhid adalah Pondasi Awal dalam menjalankan Syariat (1) Tentang Kebenaran Ilmu Laduni (1) Tentang Pertanyaan ZAKAT (1) Tertipu dengan pandangan dan Kufur Nikmat (1) Tuhan Maha Kecil disaat visualisasikan dalam kehidupan (1) Ucapan Alhamdulillah yang didustakan syarah Al Fuaad Fi Nurin (1) Ucapanku atas Shodaqollah adalah kenikmatan (1) Umat Muslim selain Manhaj Salaf Sesat dan Menyesatkan (1) Usaha Hamba Menghindarkan diri ini dari PENYAKIT UJUB (1) Zikir setelah Sholat berdasarkan Hadits Shohih (1) ilmu dan kemampuan (1) jangan meninggalkan Dzikir kepada Allah (1) “Khusyukah Diri ini dalam Beribadah kepada Tuhan” (1)

Hati Nurani

Dunia Cahaya Hati Nurani


Hati Nurani atau disebut Mata Hati bila sudah bicara, maka tak dapat dibantah akan suara yang terdengar oleh segenap tubuh ini, Hati Nurani dapat menembus apa yang tak dapat ditembus oleh Kedua Mata Zhohir ini, Hati Nurani selalu memberikan Support atas kebaikan dan menghalang-halangi suatu keburukan, tugas yang tak mudah dipikul oleh Hati Nurani, dimanakah hati Nurani diri ini ?

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ma’rifatullâh (yang benar) adalah mengenal Dzat-Nya, mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta mengenal perbuatan-perbuatan-Nya.” Dinukil oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmû’ul Fatâwâ (17/104).

AL Fuaad Fi Nurin

AL Fuaad Fi Nurin
1. Apakah Anda pernah melihat Allah Ta`ala sebagaimana anda bersaksi? 2. Apakah Anda seorang beriman atau pendusta semata ? 3. Apakah anda merasakan kesengsaraan didunia ? apakah ini gambaran hidup anda kelak dineraka ? Apapun pertanyaan pada diri sendiri maka Insya Allah jawabannya ada di buku ini

Markaz Buku Online

Usaha Ingin Di Iklankan ?

Informasi Keilmuan

Translate

Temukan Kami


Pembayaran Buku

Wilayah Pulau Jawa & Sumatera

BCA 165-1586-122
Dede Rahmat

Hp : 081316235961

Wilayah Pulau Kalimantan & Sulawesi

Mandiri 900000-2832-583
Sutimah

Hp : 081254285572

Konfirmasikan jika sudah Transfer, Terimaksih

Kata Kunci Kehidupan

"Bergantung dan Bersandarlah secara Total Kepada Allah Ta`ala tiadakanlah Makhluk yang lain jika engkau belum dapat mencapai kesana maka anggaplah tidak ada makhluk disekitarmu, jikapun masih belum bisa itulah kedudukanmu saat ini"
Powered by Blogger.

Dapatkan Kitab-Kitab ini

Bacaan yang disarankan

Beriman atau Dusta

Kontak Online

Informasi Keilmuan

Nahwu Shorof Bagi Pemula

Nahwu Shorof Bagi Pemula
Mahir dalam memberikan baris arab gundul