Pesan Untuk Diri sendiri yang sedang Berda`wah

“Jika Seorang manusia sudah menyampaikan pendapatnya maka itu sudah mencukupi, dalam hal ini yakni sudah ditunaikan apa yang seharusnya disampaikan dengan cara yang baik dan santun serta beretika. Namun Apabila melahirkan suatu permusuhan, perdebatan, dan menyerang serta menyesat-sesatkan, maka inipun tidaklah termasuk pada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hal memberikan penjelasan, tentu bukanlah cara dakwah dengan atas nama Allah dan kepada sunnah Rasulullah.
Latest Post
Loading...
Selamat Datang di Blog Dunia Cahaya hati yang menghadirkan kajian-kajian ilmu hikmah yang berlandaskan Al Qur`an dan Al Hadits dan dapatkan pula buku Al Fuaad Fi Nuurin Edisi Terbaru Semoga Blog disini dapat memberikan manfaat bagi para pengunjung
Sunday, 18 October 2015
Duniacahayahati.blogspot.com Situs tentang Ilmu Ma`rifatullah (Tauhid) Didalamnya banyak mengandung Ilmu Hikmah yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang diberikan Ilmu ini.

PANDANGAN IBN HIBBAN PADA SIFAT ALLAH TA`ALA


Kitab Sahih yang ditulis oleh Imam Muhammad Ibn Hibban yang Wafat.354 Hijriyyah Adapun Kitab yang masyhur yakni “Sahih Ibn Hibban”.

Namun perlu diketahui bahwa ini sebenarnya berjudul “Al-Taqasim wal Anwa’ . dalam Kitab ini sangatlah sukar memahami susunannya apalagi dengan keterbatasan keilmuan yang dimiliki oleh sebab itu  seorang Tokoh yang bernama Ali Ibn Balban Al-Farisi yang wafat 739 Hijriyyah merubah susunan kitab ini menjadi bab-bab fiqh agar mudah digunakan, lalu diberi nama “Al-Ihsan fi Tartib Sahih Ibn Hibban.

Dalam hal ini Ibn Hibban  menggunakan metode lintas kedisiplinan pada kandungan hadits-hadits Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam pada perintah ataupun larangan, begitu juga pada khabar (berita) dan lain-lain, dimaknai dengan amat sangat teliti dan sejalan dengan kaidah-kaidah yang diterima oleh para fuqaha. 

Kitab ini merupakan sesuatu yang di analogkan sebagai samudera luas yang mengandungi pelbagai mutiara yang banyak belum tersentuh oleh manusia. Berbagai aspek kajian yang sudah dilakukan pada kitab ini, namun tetap terlalu sedikit yang didapatkan berbanding ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya.

Hadits-Hadits Sifat Allah Ta`ala 

Hadits-hadits sifat Allah Ta`ala yang dimaksudkan ialah pelbagai riwayat yang berasal dari Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam yang menyebut Dzat dan sifat-sifat Allah Ta`ala. 

Dalam kajian Ilmu ini, riwayat-riwayat ini melahirkan dua pendekatan para ulama dalam menyikapinya dengan dua metode ini sudah Masyhur, Yakni : 

1.Tafwid (Masyhur di kalangan ulama generasi salaf)
2.Takwil (Masyhur di kalangan khalaf). 

Adapun Sikap Imam Ibn Hibban dalam hal ini sangat berbeda dengan sikap gurunya, Imam Muhammad bin Ishaq Ibn Khuzaimah yang wafat 311Hijriyyah, sedangkan Ibn Khuzaimah cenderung “menetapkan (ithbat)” Hadits-hadits itu sesuai dengan zhohirnya tanpa takwil, Sebagaimana terlihat dalam kitabnya yang bertajuk “Kitab Al-Tauhid wa Ithbat Sifat Al-Rab”

Ibn Hibban amat disiplin serta aktif dalam menafsirkan setiap kata yang mengandungi kesan tasybih dalam hadis-hadis tersebut berpandukan kaidah bahasa Arab yang sangat relevan.

Ibn Hibban berpendapat bahwa kata-kata seperti ini mesti dipahami sesuai dengan konteks dan tradisi berbahasa yang hidup di masyarakat Arabia kala itu. Bahasa Arab terkenal sangat kaya dengan pelbagai gaya bahasa (uslub), Bahasa yang mengandung hikmah yang tersirat dan dapat dipahami oleh orang yang diberikan kepemahaman, salah satunya penggunaan tamthil (perumpamaan) dan tasybih (penyerupaan), dalam praktik perbincangan mereka. Tamthil dan tasybih ini dikenal kemudian dalam perkembangan Ilmu Balaghah dengan sebutan: majaz. Setiap pembaca hadis harus sadar akan adanya aspek majaz ini apabila membaca hadits-hadits Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam, dan harus segera menghindari penafsiran hakikat bagi kata-kata majazi.

Baca Juga "SYARAH TAUHIDUL AF`AL DAN TAUHIDUL RUBBUBIYYAH"

Majaz dalam Hadits-Hadits Sifat Allah Ta`ala

dalam hal ini Ibn Hibban dan jumhur ulama, berpendapat bahwa hadits dikandungi oleh majaz sebagaimana Al-Qur’an dan teks-teks berbahasa Arab lainnya. Sebab majaz adalah bahagian yang tidak terpisahkan dari tradisi berkomunikasi yang dilakukan bangsa Arab.

Maka berkata Ibn Al-Sayyid al-Bathliyusi yang wafat 521 Hijriyyah “Inilah pendapat yang benar, tidak boleh selainnya.” Lihat Abdullah bin Muhammad Ibn Al-Sayid Al-Batlyusi, “Al-Inshaf fi Al-Tanbih ‘ala Al-Ma’ani wa Al-Asbab allati awjabat Al-Ikhtilaf bayna Al-Muslimin fi Ara’ihim”, yang di tahqiq Dr Muhamad Ridwan Al-Dayah, Damsyiq: Dar Al-Fikr, 1987, cet. ke-3, hal. 71.
Ibn Hibban berkata “Menyebutkan hadits yang menunjukkan bahawa lafaz-lafaz ini yang berasal daripada kategori ini menggunakan lafaz-lafaz tamthil dan tasybih sesuai dengan tradisi masyarakat (Arab) tanpa menghukumkan dengan zahirnya.”
Ibn Hibban kemudian meriwayatkan hadis qudsi yang berisi perbincangan antara Allah Ta`ala dan seorang hamba pada hari kiamat yakni : 
Allah berkata kepadanya: “Wahai anak Adam, aku sakit kenapa engkau tidak menjengukku? Manusia itu berkata: Wahai tuhan, bagaimana aku menjenguk-Mu padahal engkau adalah tuhan alam semesta? Allah berfirman: Tidakkah engkau mengetahui bahwa hambaku Si Fulan tengah sakit, namun engkau tidak menjenguknya. Tidakkah engkau tahu, bahawa jika engkau menjenguknya, engkau akan menemukan Aku di sisinya.”

“Al-Ihsan fi Tartib Sahih Ibn Hibban”, tahqiq Kamal Yusuf Al-Hut, [Beirut: Dar Al-Fikr, 1987] 1/243.

Ibn Hibban menjadikan hadits ini sebagai hujjah bahwa Allah dan Rasul-Nya menggunakan kalimat-kalimat majaz tanpa menginginkan makna hakikat kata tersebut (“Aku sakit, mengapa engkau tidak menjenguk-Ku?”). Kalau begitu, maka menjadi kewajiban manusia untuk menangkap dengan teliti pesanan yang disampaikan tanpa terjerumus dalam kekeliruan.
Dari dasar inilah, Ibn Hibban berikhtiar menafsirkan setiap hadits yang menyebutkan sifat-sifat Allah, yang zhohirnya nampak menyerupai sifat-sifat makhluk, dengan cara yang tidak menyimpang dengan kaidah-kaidah bahasa Arab. 

Metode-Metode penafsiran Ibn Hibban 

1. Hadits Tentang “Diri (nafs)” Allah, “berjalan” dan “berlari”

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Sholallahu alaihi Wassalam bersabda: Allah Ta`ala berfirman: “Aku sebagaimana persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan aku bersamanya selama ia menyebut-Ku. Sesiapa yang menyebut-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan menyebutnya di dalam diri-Ku (nafsi). Jika ia menyebut-Ku di dalam kumpulan manusia, maka Aku akan menyebutnya di dalam kumpulan yang lebih baik. Jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa. Dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari.”

Ibn Hibban berkata: “Allah Ta`ala Sangat dan Terlalu Agung dan Tinggi untuk dinisbahkan baginya sifat-sifat makhluk, sebab tidak ada yang menyerupai-Nya sedikitpun. Kata-kata ini digunakan sesuai dengan tradisi (taaruf) yang berlaku di kalangan masyarakat.
Sesiapa yang menyebut Allah Ta`ala di dalam dirinya dengan ucapan atau perbuatan yang mendekatkan diri kepada-Nya, Allah akan menyebutnya di dalam kerajaan Malakut-Nya dengan maghfirah sebagai tanda kemurahan-Nya. Dan sesiapa yang menyebut tuhannya di dalam sekumpulan hamba-hamba-Nya, Allah akan menyebutnya di sisi para malaikat muqarrabin dengan maghfirah dan menerima zikirnya.
Sesiapa yang mendekat kepada tuhannya dengan melakukan ketaatan sekedar satu hasta, maka maghfirah lebih dekat kepadanya sekedar satu depa. Sesiapa yang mendatangi amalan-amalan ketaatan dengan cepat seperti berjalan, maka pelbagai rahmat, maghfirah dan kasih sayang Allah akan mendatanginya dengan lebih cepat seperti berlari. Allah lebih tinggi dan lebih agung.”

2. Hadits tentang “Tangan” Allah

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Sholallahu alaihi Wassalam Bersabda: “Tidaklah seorang hamba bersedekah dari hasil yang halal dan Allah hanya menerima dari yang halal dan hanya yang halal yang terangkat ke langit- melainkan sedekah itu seolah-olah diletakkan di tangan Allah yang Maha Pengasih ...” hingga akhir ke hadis.

Ibn Hibban berkata: “Kalimat (seolah-olah diletakkan di tangan Allah yang Maha Pengasih) menjelaskan bagimu bahwa hadits-hadits ini menggunakan lafaz tamthil tanpa ada hakikatnya atau diketahui kaifiatnya. Sebab lawan bicara (mukhatab) tidak memahami (pesanan) seperti ini melainkan dengan kata-kata yang disebutkan dengannya.”

Adapun pada hadits lain, dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad Sholallahu alaihi Wassalam bersabda: “Tangan kanan Allah sangat penuh, tidak berkurang karena perbelanjaan. Selalu memberi di waktu siang dan malam. Tahukah kamu berapa banyak yang telah Allah belanjakan sejak menciptakan langit dan bumi? Sesungguhnya ia tidak mengurangi apa yang ada di sisi-Nya. Tangan yang lain menggenggam, mengangkat dan menurunkan. Dan Arasy-Nya di atas air.”

Ibn Hibban berkata: “Hadits-hadits yang disebutkan ini membuat orang yang tidak menguasai ilmu menyangka bahwa ahli hadits adalah musyabihah (menyerupakan Allah dengan makhluk). Kami berlindung kepada Allah daripada terlintas pikiran itu di benak satu orangpun ahli hadits.
Namun hadits-hadits ini menggunakan tamthil (majaz) untuk sifat Allah sesuai dengan (tradisi berbahasa) yang dikenal oleh masyarakat tanpa menyebutkan kaifiat sifat-sifat Allah. Maha tinggi tuhan kami daripada diserupakan dengan makhluk atau disebutkan kaifiat sifat-sifat-Nya. Sebab tidak ada yang menyerupai-Nya sedikitpun.”

3.Hadits tentang “Kaki” Allah

yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Sholallahu alaihi Wassalam bersabda: “Dilemparkan (ahli neraka) ke dalam Neraka, dan Neraka terus berkata: tambahkan lagi. Sehingga Allah Swt meletakkan kaki (qadam)-Nya di dalam Neraka, maka ia berkata: cukup, cukup.”

Berkata Ibn Hibban: “Hadits ini termasuk hadits-hadits yang menggunakan tamthil mujawarah. Pada hari kiamat, dicampakkan ke dalam Neraka manusia-manusia dan tempat-tempat yang dilakukan maksiat di dalamnya. Neraka terus meminta untuk ditambahkan, sehingga Allah Subhanahu wa Ta`ala meletakkan tempat (berpijak) orang-orang kafir dan tempat-tempat maksiat itu di dalam Neraka. Maka penuhlah Neraka, sehingga ia berkata: cukup-cukup.

Bangsa Arab menggunakan di dalam bahasanya lafaz kaki (qadam) untuk makna: tempat (berpijak). Allah Ta`ala berfirman: mereka akan mendapatkan qadam yang baik di sisi tuhannya (Qs Yunus ayat 2), Yakni: tempat yang baik. Bukan maknanya bahwa Allah Ta`ala meletakkan kaki-Nya di dalam Neraka. Maha tinggi Allah daripada pemahaman seperti ini dan yang seumpama dengan-Nya.”

4. Hadits Tentang Allah “Tertawa”

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Allah Subhanahu wa Ta`ala tertawa karena dua orang laki-laki. Salah seorang daripada keduanya membunuh yang lain, namun keduanya masuk syurga.”

Ibn Hibban berkata: “Hadits ini termasuk dalam kategori yang aku sebutkan dalam kitab-kitabku, bahwa bangsa Arab seringkali menyandarkan perbuatan kepada pihak yang memerintahkan (perbuatan itu), sebagaimana hanya disandarkan kepada pelaku (perbuatan itu). Begitu juga, sebuah gerakan makhluk seringkali disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala,

Sabda Nabi Sholallahu alaihi wassalam: Allah tertawa karena dua orang laki-laki, maknanya: Allah membuat para malaikat tertawa dan kagum melihat seorang laki-laki kafir yang membunuh muslim, kemudian Allah memberinya hidayah sehingga ia masuk Islam setelah itu, maka keduanya masuk syurga. Allah membuat mereka kagum dan tertawa atas suatu kejadian yang telah ditentukan-Nya. Maka dinisbahkan tertawa yang merupakan perbuatan malaikat kepada Allah Subhanahu Wa Ta`ala, sebab Allah yang memerintahkan dan menghendakinya.

Dalam hal ini Penulis tidak sependapat kepada Ibnu Hibban bahwa malaikat yang Tertawa dengan di nisbahkan pada kalimat : Allah Tertawa. walaupun ditutup kalimatnya oleh Ibnu Hibban dengan Sebab Allah yang memerintahkan dan menghendakinya ( akhir-akhirnya tetap kembali juga kepada Allah), ini membuat putaran-putran yang penulis tidak perlu dilakukan (Elfiansyah Elham Spd)

C. Ibn Hibban dan Tafwid

Ibn Hibban  juga mengambil sikap tafwid, yakni hanya menerima dan mengimani tanpa penafsiran. Saya melihatnya sebagai sebuah sikap berhati-hati apabila tidak menemukan penafsiran yang cukup meyakinkan untuk kalimat yang hendak ditafsirkan. Sejauh bacaan saya, tidak satu orangpun yang mampu mentakwil semua kalimat dalam hadits sehingga meninggalkan tafwid sama sekali, sebagaimana tidak ada satu orangpun yang mampu berpegang kepada tafwid sepenuhnya sehingga meninggalkan takwil sama sekali.

Beliau berkata: “Sifat-sifat Allah tidak dapat dijelaskan kaifiatnya dan tidak dapat dikias dengan sifat makhluk. Sebagaimana Allah berbicara tanpa alat  dengan gigi, lidah dan bibir seperti makhluk, maha tinggi Allah dari penyerupaan ini, dan tidak boleh dikias ucapan-Nya dengan ucapan kita karena ucapan makhluk menggunakan alat, sementara Allah berbicara seperti :mana kehendak-Nya tanpa alat- maka begitu juga Allah turun tanpa alat, pergerakan dan perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain...”
"الحمد لله الذي ليس له حد محدود فيحتوى، ولا له أجل معدود فيفنى، ولا يحيط به جوامع المكان ولا يشتمل عليه تواتر الزمان"

“Segala puji bagi Allah, Dzat yang bukan merupakan benda yang memiliki ukuran. Dia tidak terikat oleh hitungan waktu maka Dia tidak punah. Dia tidak diliputi oleh semua arah dan tempat. Dan Dia  tidak terikat oleh perubahan zaman” (At-Tsiqât, Jilid. 1, hal. 1).

Dalam kitab yang lain Ibn Hibban menuliskan:

"كان- الله- ولا زمان ولا مكان"

“Allah ada tanpa permulaan, Allah ada sebelum ada tempat dan waktu” (Shahîh Ibn Hibbân, j. 8, h. 4).

Ibnu Hiban Juga berkata:

"كذلك ينزل- يعني الله- بلا ءالة ولا تحرك ولا انتقال من مكان إلى مكان "

“Sifat Nuzûl Allah bukan dengan alat, tidak dengan bergerak, dan bukan dalam pengertian berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain” (Shahîh Ibn Hibbân, Jilid. 2, Halaman. 136)

D. Metode-Metode Ahli Hadits

Metode pendekatan Ibn Hibban ini tidaklah asing di kalangan ahli hadits mutaqaddimin dan mutaakhirin. Pendekatan metodologis seperti ini pernah dipraktikkan oleh ahli hadis sebelum beliau seperti Ibn Qutaybah Al-Dinawari (w.276H) dan lain-lain.[11] Metod ini juga digunakan oleh ramai ahli hadis setelah beliau seperti Abu Sulaiman Al-Khattabi [w. 388 H], Ibn Furak Al-Isbahani [w. 406 H], Ibn Hazm Al-Zahiri [w. 456 H],[12] Al-Baihaqi [w. 458 H], Ibn Abdil Bar [w. 463 H], Abu Al-Wafa Ibn 'Aqil Al-Hanbali [w. 513 H], Ibn Al-Jauzi [w. 597 H], Al-Hafiz Ibn Daqieq Al-‘Ied [w. 702 H], Ibn Hajar Al-Asqalani [w.852H], hingga pakar-pakar hadis yang hidup pada hari ini.

Adapun pada sisi yang lain, dapat ditemukan pula golongan ahli hadits yang berarah kepada motode “menerima tanpa takwil” seperti Ibn Khuzaimah [w.311H], Al-Ajurri [w.360H], Ibn Mandah [w.470H], Ibn Taymiah [w.728H], Al-Dzahabi [w.748H], Ibn Al-Qayyim [w.751H], Ibn Kathir [w.774H] dan ramai ahli hadis lainnya.

Bagi yang ingin mengakses melalui Iphone atau Android silahkan klik tombol dibawah ini :





PESAN BUKU AL FUAAD FI NUURIN ( KEMURNIAN TAUHID )


Categories

Kelolokan Km 12 (2) Memahami Bab Furuiyyah (2) Adab Islam dalam memasuki Rumah (1) Ahmadiyah dan LDII (1) Aku berda`wah untuk golongan kalian dan Golongan kalian tidak boleh menda`wahi golonganku (1) Al Fuaad Fi Nurin (1) Al Fuaad Fi Nuurin (1) Al HIkam sesat dan menyesatkan (1) Al Quran bagi diri ini hanya sebagai simbol dan hiasan semata (1) Alergi Belajar Tauhid (Ma`rifatullah) Rusaklah Hati dan Jasad (1) Allah Ta`ala ditenggelamkan oleh pelampung (1) Allah Ta`ala yang bersedekah buat diri ini (1) Amal Ibadah bukanlah Jaminan Surga (1) Amal sholat dan puasa akan nampak nilai setelahnya... (1) Apakah diri ini bodoh ikut-ikutan dalam mengkafirkan Golongan lain ? (1) Awal Keberadaan Sufisme dan Anti Sufisme (1) BAB HAID Bagi Wanita (1) BAB SHOLAT DALIL SEBELUM TAKBIR (1) BAB SHOLAT Takbiratul Ihkram (1) BAGAIMANA AHMAD IBNU IDRIS SEBAGAI TOKOH SUFI DAPAT BERGANDENGAN TANGAN DENGAN KAUM WAHHABIYYAH ? (1) BAKTI SEORANG ANAK TERHADAP IBUNYA YANG GILA (1) BENARKAH AKU BERIMAN ATAU ATHEIS (TAK BERTUHAN) (1) BENARKAH PROF QURAISH SHIHAB SYI’AH? (1) Bab Duduk antara dua sujud beserta doanya (1) Bab Salam dalam Sholat (1) Bab Sujud dan Bacaan Sujud (1) Bab Takbiratul Ikhram (1) Bab mengangkat kedua tangan ketika Takbir (1) Bagaimana Pergerakan Keilmuan Tasawuf semakin merebak di Penjuru Dunia dan banyak diterima di Masyarakat baik para pemuda maupun yang Lanjut Usia ? (1) Bagaimana mungkin diri ini beramal ibadah (1) Bantahan Umat Muslim Di Tolikara Papua (1) Belajar Tauhid haruslah Kaffah (1) Benarkah cinta kita kepada Allah ? (1) Benarkah diri ini mengenal Allah Ta`ala (Ma`rifatullah) (1) Berbagai Jenis Amal adalah karena berbagai Ahwal (1) Beriman yang Dusta atau Tidak pada Umat islam di Tolikara (1) Berimankah diri ini atau dusta semata ? (1) Bid`ah Maulid Nabi dan Bid`ah Hari Besar (1) Bid`ah dan Khilafiyah yang akan selalu di debatkan sampai akhir zaman (1) Bidadari Surga ditanah Adat (1) Bodoh yang yang ditampakkan (1) Bukanlah diri ini seorang ahli hakekat jika masih suka mencela orang lain (1) Bukti Allah tidak menyukai orang yang bangga dengan amalnya (1) Bukti Bahwa Makhluk Tidak dapat membawa rezekinya sendiri (1) Buku Nahwu Shorof Bagi Pemula & Lanjut Usia (1) CAK NUN : "Sangat dilarang menyakiti hati orang lain" (1) DITIPU (1) Dai-Dai saat ini suka mencela Ulama Terdahulu (1) Dasar-Dasar Ma`rifatullah Pembatalan Syahadat yang Nampak (1) Disaat Al Qur`an di visualisasikan Maka Nampaklah dusta pada diri ini (1) Doa Iftitah (1) Doa dan amalan bukanlah sebagai jarak pemisah kepada Tuhan (1) Dusta Dalam Beramal dan beribadah kepada Allah (1) Dusta seorang Guru Tauhid yang Nampak Mendustakan (1) Elfiansyah Elham Spd (1) Elfiansyah Spd (1) Fiqh Bab Niat (1) Fiqh Bab Wudhu (1) Fitnah yang nampak yang ditujukan kepada Dr ZAKIR NAIK hal INSHA ALLAH (1) Gendrang Jihad telah ditabuh di Kabupaten Tolikara (1) Hakekat Kemiskinan adalah ketika kehilangan harapan (1) Haram berzakat didalam masjid (1) Hikmah Syukur di balik Cobaan dan Ujian seorang Hamba (1) Hukum Mengirim Al Fatihah atau menghadiakan Al Fatihah kepada yang meninggal (1) Hukum Nun Mati dan Tanwin (1) IDGHAM BIGHUNNAH ( ادغم بغنة ) (1) I`tidal dari ruku (1) Ibadah Umrah dan haji yang didustakan dan mendustakan-Nya (1) Iblis namanya adalah Azazil dia termasuk dari malaikat-malaikat yang paling mulia (1) Ilmu Hikmah bukanlah Ilmu sesat (1) Ilmu Tajwid (1) Iman Bil Ghoib (1) Istiftah dan Al Fatihah (1) JALAN MEMPEROLEH MAKRIFAT (1) JANGAN ENGKAU DUSTAKAN KITAB SUCI MU SENDIRI (1) Jangan berbangga dengan kemajuan Zaman (1) Jika ada lintasan didalam hati ada kehendak selain kehendakNya maka MURTAD (1) Kajian Islam Ilmu Hikmah (1) Kajian Nahwu Shorof dan Fiqh Bit Takhrij Al Qur`an Wal Hadits (1) Kedustaan dan kesombongan dalam Tawadhu (Merendahkan diri) (1) Keputusan Mahkamah Agung Terhadap Syiah (1) Kesombongan yang mengecilkan diri sendiri (1) Ketika Tauhid Bergema Di Antara Dua Kubah (1) Khilafiyyah Maulid Nabi dan Hari Besar Islam (1) Kisah Nyata Imam Hanafi ( Abu Hanifah ) (1) Kitab Al Hikam Bukan Kitab yang sesat namun Malah Meluruskan (1) Kitab Al Hikam Sesat (1) Larangan waktu dalam menguburkan mayat (1) MPU Aceh mengeluarkan fatwa paham Salafi sesat menyesatkan (1) Maka diri ini terdiam: Allah Ta`ala ditenggelamkan oleh Tempe (1) Makna kedalaman Syahadat اَشْهَدُاَنْالَااِلَهَ اِلَّااللهُ (1) Mandu dalam kutim (1) Manusia tetaplah manusia tidaklah mampu dalam hal apapun (1) Membedah Buku Sufi dan Anti Sufi (1) Mengapa Kaum Wahhabiyyah mengambil sikap penentangan extstrem terhadap Sufiesme ? (1) Mengetahui Kedudukan Di Sisi Allah (1) Menyekutukan Allah Ta`ala dengan kekuatan (1) Menyikapi Fatwa MPU terhadap Ajaran Salafy yang sesat dan menyesatkan (1) Muslim atau Bukan Muslim atau muslimah (1) Novel Islam (1) PANDANGAN IBN HIBBAN PADA SIFAT ALLAH TA`ALA (1) PELAJARAN ISIM DHOMIR ( Kata Ganti ) (1) PENOLAKAN PADA TAREKAT OLEH KAUM WAHHABIYYAH (1) PERBEDAAN & BEDA KEPEMAHAMAN ITU HARUS ADA (1) Pandai Berma`rifatullah Sholatpun di tinggalkan (1) Pejabat Pemerintah yang Berdusta dan Kejam (1) Pelajaran Nahwu Shorof Bab Al Marifat & Annakiroh (1) Penghuni Surga dan neraka sudah ditetapkan (1) Penyakit UJUB yang Akut pada diri (1) Perselisihan Kedudukan Orang Tua Rasulullah yang dinyatakan Masuk Neraka (1) Praktek Syeikh Sufi yang jauh dari Al Qur`an dan As-Sunnah (1) Puasaku hanyalah dusta semata kepada Allah (1) Pujian Hanya Bagi Allah Ta`ala semata (1) Rasionalkah Beribadah & Hukum Insya Allah (1) Ruku dan Bacaan Ruku (1) SHOHIH HADITS QUDSI (1) SURGA MILIKU BUKAN MILIK GOLONGANMU (1) SYARAH TAUHIDUL AF`AL & TAUHIDUL RUBBUBIYYAH (1) Salafi yang suka menyesatkan (1) Sedekah Perkataan yang Baik itu lebih baik dari harta (1) Sesatkah Doa Abu Nuwas Amal jadi alat sambung atau Pemisah (1) Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907) (1) Sholat bukanlah hanya sekedar Sholat (1) Sholat sekedar Sholat Kerapunpun bisa sholat (1) Siapakah Ibnu Arabi yang di Kafirkan Wahhabi ? (1) Siapapun Diri ini tidak ada andil (1) Site Manubar (1) Syariat yang menipu pandangan mata manusia (1) Syukur yang dibaca namun didustakan setiap harinya (1) TAHUKAH ANDA ? (1) TERTIPU ATAU PURA-PURA BODOH TERHADAP JAMINAN ALLAH (1) Tanah adat Kutai timur (1) Tanda-Tanda Manusia yang Tidak Ikhlas pada Ketetapan Allah (1) Tasawuf dan Sufi gadungan (1) Tauhid Bab Syirik Khofi (Tersembunyi) (1) Tauhid adalah Pondasi Awal dalam menjalankan Syariat (1) Tentang Kebenaran Ilmu Laduni (1) Tentang Pertanyaan ZAKAT (1) Tertipu dengan pandangan dan Kufur Nikmat (1) Tuhan Maha Kecil disaat visualisasikan dalam kehidupan (1) Ucapan Alhamdulillah yang didustakan syarah Al Fuaad Fi Nurin (1) Ucapanku atas Shodaqollah adalah kenikmatan (1) Umat Muslim selain Manhaj Salaf Sesat dan Menyesatkan (1) Usaha Hamba Menghindarkan diri ini dari PENYAKIT UJUB (1) Zikir setelah Sholat berdasarkan Hadits Shohih (1) ilmu dan kemampuan (1) jangan meninggalkan Dzikir kepada Allah (1) “Khusyukah Diri ini dalam Beribadah kepada Tuhan” (1)

Hati Nurani

Dunia Cahaya Hati Nurani


Hati Nurani atau disebut Mata Hati bila sudah bicara, maka tak dapat dibantah akan suara yang terdengar oleh segenap tubuh ini, Hati Nurani dapat menembus apa yang tak dapat ditembus oleh Kedua Mata Zhohir ini, Hati Nurani selalu memberikan Support atas kebaikan dan menghalang-halangi suatu keburukan, tugas yang tak mudah dipikul oleh Hati Nurani, dimanakah hati Nurani diri ini ?

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ma’rifatullâh (yang benar) adalah mengenal Dzat-Nya, mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta mengenal perbuatan-perbuatan-Nya.” Dinukil oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmû’ul Fatâwâ (17/104).

AL Fuaad Fi Nurin

AL Fuaad Fi Nurin
1. Apakah Anda pernah melihat Allah Ta`ala sebagaimana anda bersaksi? 2. Apakah Anda seorang beriman atau pendusta semata ? 3. Apakah anda merasakan kesengsaraan didunia ? apakah ini gambaran hidup anda kelak dineraka ? Apapun pertanyaan pada diri sendiri maka Insya Allah jawabannya ada di buku ini

Markaz Buku Online

Usaha Ingin Di Iklankan ?

Informasi Keilmuan

Translate

Temukan Kami


Pembayaran Buku

Wilayah Pulau Jawa & Sumatera

BCA 165-1586-122
Dede Rahmat

Hp : 081316235961

Wilayah Pulau Kalimantan & Sulawesi

Mandiri 900000-2832-583
Sutimah

Hp : 081254285572

Konfirmasikan jika sudah Transfer, Terimaksih

Kata Kunci Kehidupan

"Bergantung dan Bersandarlah secara Total Kepada Allah Ta`ala tiadakanlah Makhluk yang lain jika engkau belum dapat mencapai kesana maka anggaplah tidak ada makhluk disekitarmu, jikapun masih belum bisa itulah kedudukanmu saat ini"
Powered by Blogger.

Dapatkan Kitab-Kitab ini

Bacaan yang disarankan

Beriman atau Dusta

Kontak Online

Informasi Keilmuan

Nahwu Shorof Bagi Pemula

Nahwu Shorof Bagi Pemula
Mahir dalam memberikan baris arab gundul